ARTIKEL
Suara
Guru Bahasa Indonesia Dalam Menghadapi Setiap Perubahan
“Jujur, saya sebagai guru Bahasa Indonesia di era ini
saya cukup kualahan dikarenakan banyak sekali perubahan-perubahan yang terjadi membuat saya bingung bagaimana
cara menerapkannya pada anak didik saya.”
Itulah sepenggal kalimat jawaban dari seorang guru Bahasa
Indonesia dari sekolah SMP Kanisius Sumber.Beliau sudah mengajar sejak 7 tahun
lalu disekolah itu, bahkan ketika beliau masuk itu adalah tahun-tahun dimana
mendekati adanya penyebaran virus korona. Dari hasil wawancara yang kami
lakukan pada tanggal 17 Juni 2026, banyak sekali pokok permasalahan yang
dirasakan guru-guru pada saat ini terutama pada guru Bahasa Indonesia. Ibu
Novelia Gita Nurani atau yang akrab disapa Bu Novel menjelaskan bahwa pada mata
Pelajaran Bahasa Indonesia sendiri yang dimana itu adalah Bahasa kita tetapi
ketika dipelajari anak sulit dalam menangkap materi tersebut, padahal bu Novel
ini telah melakukan berbagai cara agar peserta didiknya dapat memahami materi
yang diajarnya. Alasan mengapa peserta didik sulit untuk menangkap permasalahan
tersebut adalah, anak yang di ajar oleh bu Novel merupakan anak generasi covid-19.
Bu Novel menjelaskan “ Anak- anak yang terdampak masa pandemi ini terbiasa
dengan sekolah daring atau tidak tatap muka secara langsung dan ketika
pembelajaran berlangsung pun mereka lebih asik bermain gadget. Hal ini lah yang
mengakibatkan tingkat literasi anak sangat rendah”. Sebetulnya sangat
disayangkan jika literasi anak pada saat ini menjadi rendah, karena kebanyakan
anak dengan literasi rendah dampaknya akan sangat fatal pada kehidupan
sehari-harinya. Selain itu, dampak dari literasi rendah ini menyebabkan
nilai rata-rata mata pelajaranpun ikut
rendah bahkan tidak dapat mencapai angka 80.
Selain dari sisi anak, permasalahan ini juga diakibatkan
oleh kebijakan dan kurikulum yang cepat berubah. Kebijakan pemerintah dan
pergantian kurikulum yang sangat
signifikan ini dirasa sangat menghambat kegiatan belajar mengajar. “Setiap Ganti
presiden, pasti Ganti juga kebijakan dan kurikulum, ini lah yang membuat kami
para guru sangat pusing dan harus meremobak kembali semua yang sudah terencana.”
Keluh Bu Novel. Perubahan yang di maksud oleh Bu Novel disini adalah perubahan
seperti ANBK (Asesmen Nasional Berbasis Komputer) dirubah menjadi TKA (Tes
Kemampuan Akademik) kebijakan-kebijakan itulah yang membuat para guru di
lapangan menjadi bingung. Kebijakan ini
berkaitan dengan peserta didik yang merupakan generasi covid-19, sehingga
mereka harus mulai dari awal lagi untuk penyesuaian kebijakan yang berlaku pada
saat ini. Ketergantungan pada AI juga sangat mempengaruhi perilaku atau
karakter pada peserta didik. tidak heran pada zaman ini anak sangat mahir dalam
menggunakan AI untuk membantu mencari jawaban dari tugas-tugas yang
diberikan. Bu Novel juga menyampaikan
bahwa hampir separo anak peserta didiknya
yang mengerjakan tugas dengan AI, pastinya guru akan dapat menilai apakah
pekerjaan itu milik sendiri atau hasil dari AI. Ketergantungan penggunaan AI
ini akan membuat anak menjadi generasi instan, sudah dengan kurikulum yang tiap
waktu dapat berubah ditambah dengan ini maka tamatlah sudah generasi anak
sekarang ini. Menurut Bu Novel hal-hal tersebutlah yang memicu turunnya
kualitas belajar pada anak, sehingga
anak tidak memiliki semangat yang tinggi dalam belajar. Dampak – dampak yang
saat ini munculmungkin belum sepenuhnya dirasakan oleh anak pada anak secara
sadar, akan tetapi mungkin dampak ini nantinya akan dirasakan oleh mereka ketika
mereka keluar dari lingkungan tersebut dan bertemu dengan orang – orang yang
memiliki berbagai karakter. Permasalahan ini juga menjadi tantangan bagi para
guru, guru-guru lebih dituntut untuk bijak dalam penggunaan media sosial dan
melakukan pengarahan kepada peserta didik agar mereka dapat memanfaatkan
kemajuan-kemajuan teknologi ini dengan tepat
serta dapat membentuk karakter yang lebih baik lagi.
Komentar
Posting Komentar